|
Siaran Pers EoF
Kebakaran di Konsesi APP/Sinar Mas Memperparah Kabut Asap
Regional dan Mengancam Cagar Biosfir PBB yang Baru
Pekanbaru – Data satelit selama enam bulan pertama di tahun 2009 menunjukkan
bahwa Provinsi Riau memiliki jumlah titik api kebakaran terbanyak di Indonesia,
yakni 4.782. Dari jumlah tersebut hampir seperempatnya berasal dari kebakaran
hutan dan lahan di Riau yang terjadi di dalam konsesi-konsesi yang terkait dengan
perusahaan Asia Pulp & Paper milik Sinar Mas Group. Jumlah ini lebih banyak
daripada jumlah titik api di dalam konsesi-konsesi perusahaan tunggal lainnya,
demikian temuan analisa koalisi LSM Eyes on the Forest.
Kebakaran hutan dan gambut telah melalap sejumlah besar
konsesi-konsesi di Sumatera bagian tengah yang terkait dengan perusahaan
APP/SMG, menambah masalah kabut asap regional dan perubahan iklim global serta menghancurkan
hutan kaya-spesies di Cagar Biosfir yang baru dideklarasikan UNESCO di Provinsi
Riau.
Kebakaran hutan dan gambut merupakan ancaman utama bagi
kesehatan penduduk Indonesia, keanekaragaman hayati, ekonomi regional dan iklim
global. Kebakaran-kebakaran itu sering disengaja sebagai cara cepat dan mudah
guna membersihkan lahan setelah hutan alam dibabat habis sebelum membangun
perkebunan. El Niño tahun ini
diperkirakan akan berakibat lebih parah terhadap kebakaran hutan dan lahan
daripada dua tahun silam. Puncak El Niño diperkirakan jatuh antara bulan September dan Oktober.
Pada bulan Mei tahun ini, APP/SMG mencoba memikat hati masyarakat
dengan mengumumkan rancangan pencapaian konservasi hutan Giam Siak Kecil –
Bukit Batu (GSK-BB) sebagai Cagar Biosfir UNESCO. Namun, 20 persen dari semua
titik api kebakaran di Riau selama paruh pertama tahun 2009 terjadi di dalam
blok hutan GSK yang asli dan separuhnya terjadi di dalam konsesi-konsesi
perusahaan APP/SMG, demikian menurut Eyes on the Forest. Data satelit MODIS menunjukkan
bahwa 22 persen dari titik api Riau terbakar di cagar biosfir dan konsesi
terkait APP/SMG lainnya.
“Sebagai pemegang izin, APP/SMG dan perusahaan yang tergabung
dengan mereka seharusnya serius bertanggungjawab mencegah kebakaran seperti itu
di dalam konsesi mereka, terlepas dari apakah kebakaran diakibatkan oleh mereka
sendiri atau oleh orang lain,” ujar Susanto Kurniawan dari Jikalahari. “Kami
juga mengimbau APP/SMG untuk menghentikan pembangunan jalan-jalan baru menembus
atau dekat hutan alam, menggali aliran kanal dan menebangi hutan gambut alam
manapun. Semuanya itu mempermudah kebakaran.”
“Apakah melalui kebakaran, pengaliran atau penebangan
hutan dalam konsesi asal kayunya, APP/SMG adalah kontributor tunggal terbesar
terhadap kehancuran hutan alam dan lahan gambut di ekosistem GSK yang asli,
dimana Cagar Biosfir terbentuk. Antara 1996 dan 2007, APP telah membangun hutan
tanaman kayu pulp sebesar 177.000 hektar, atau 65% dari semua hutan alam yang
hilang di ekosistem itu,” ujar Nursamsu dari WWF-Indonesia.
“Hutan-hutan ini ditebangi terkadang tanpa izin yang sepatutnya,
dan bahkan berada di dalam kawasan lindung provinsi,” ujar Hariansyah Usman
dari Walhi Riau. “Lagipula, mereka juga kadang-kadang melanggar Keputusan
Presiden Nomor 32 tahun 1990 yang melarang penebangan hutan alam pada lahan
gambut berkedalaman lebih dari 3 meter. APP/SMG masih meneruskan penebangan
hutan yang dipertanyakan keabsahannya di tempat lainnya di Sumatera.
“Kami mengimbau pemerintah memproses kembali
temuan-temuan menyangkut investigasi pembalakan liar yang baru saja dihentikan,
daripada menutup kasus itu. Kami juga mengimbau pemerintah untuk mengambil
tindakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan yang sengaja membakar,” tambah
Hariansyah.
Cagar biosfir adalah areal konservasi yang dibuat untuk
melindungi keanekaragaman hayati dan budaya dalam satu kawasan, juga
mempromosikan pengembangan ekonomi berkelanjutan. Saat ini, hanya 35% dari
700.000 hektar Cagar Biosfir UNESCO yang merupakan hutan alam; sisanya
didominasi oleh hutan tanaman monokultur akasia yang memiliki nilai konservasi sangat
rendah.
“Kami berharap bahwa hutan alam cagar biosfir akan tetap
terjaga dan kestabilan ekosistem gambut di cagar itu bisa dipulihkan. Agar ini
terlaksana, APP perlu menyediakan pengamanan yang sebenarnya terhadap kawasan
itu dan melakukan pengelolaan hidrologis bertanggungjawab terhadap kawasan
gambut. Peta titik api terbaru secara jelas menunjukkan bahwa perusahaan tidak
melakukan pengamanan itu. Inilah saatnya bagi mereka untuk merealisasikan apa
yang mereka sampaikan,” kata Susanto Kurniawan.
Saat ini, APP tengah dalam perhatian publik terhadap
penghancuran hutan alam di lansekap Bukit Tigapuluh di Sumatera bagian Tengah
(Riau dan Jambi). Sekitar 450.000 hektar hutan alam menyatu yang tersisa di
kawasan itu adalah rumah bagi satu-satunya populasi orangutan sumatera yang sukses
dilepasliarkan di dunia, juga rumah bagi seperempat dari populasi liar harimau sumatera
dan gajah sumatera yang tersisa. Dua suku masyarakat asli, Talang Mamak dan
Orang Rimba, juga menggantungkan pencarian mereka dan tinggal di hutan ini. APP/SMG
memiliki rencana-rencana membabat habis lebih dari 200.000 hektar hutan tersebut
jika Departemen Kehutanan mengizinkannya.
Tahun ini, 100 titik api muncul di Bukit Tigapuluh, di kawasan
yang hutan alamnya baru-baru ini ditebangi. Banyak di antaranya terjadi di
sepanjang jalan logging baru yang memotong hutan alam, yang dibangun APP/SMG pada
2008 guna mengangkut kayu menuju dua pengolahan pulp raksasa di Riau dan Jambi.
Karena baru, jalan logging tersebut mengakibatkan maraknya pembalakan liar dan
perambahan terhadap hutan alam, mengancam keselamatan satwaliar dan masyarakat
suku asli.
Setiap tahun kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Jambi
menyebabkan kabut asap lintas-batas melintasi kawasan. Tahun ini pemunculan
besar kebakaran dimulai pada Januari dan Mei, mengakibatkan penambahan
signifikan jumlah penduduk yang menderita infeksi saluran pernafasan atas dan memaksa ditutupnya
sekolah-sekolah dan bandara serta penundaan penerbangan.
###
CATATAN
BAGI REDAKSI:
·
Eyes on the Forest adalah koalisi
Jikalahari, Walhi Riau dan WWF-Indonesia. Laporan-laporan sebelumnya soal APP
dipublikasikan pada www.eyesontheforest.or.id
·
Data kebakaran hutan yang digunakan
berasal dari NASA/University of Maryland, 2002. MODIS Hotspot / Active Fire Detections.
Data set. MODIS Rapid Response Project, NASA/GSFC [produser], University of
Maryland, Fire Information for Resource Management System [distributor].
Tersedia secara on-line di http://maps.geog.umd.edu.
·
Analisa titik api kebakaran untuk GSK
dan BTp dilakukan di dalam perbatasan hutan alam orisinil di tahun ketika
APP/SMG dan perusahaan-perusahaan tergabung mereka memulai menebangi hutan alam
di kawasan-kawasan ini. Perusahaan-perusahaan tergabung APP/SMG mulai menebangi
hutan alam di GSK dan BTp pada 1996 dan 2000, masing-masingnya.
·
Hutan GSK
terus mengerucut sejak komitmen pertama APP pada 2004 untuk melindunginya.
Perusahaan audit hutan berakreditasi Forest Stewardship Council (FSC), SmartWood, disewa oleh APP untuk memantau
perlindungannya pada hutan ini, membatalkan kontrak pada 2008 ketika perusahaan
audit itu menemukan APP tidak mengambil tindakan guna melindungi hutan –
keduanya dari mereka sendiri dan dari pihak lain.
http://www.rainforest-alliance.org/forestry/documents/app.pdf.
- Soal kegiatan-kegiatan APP di kawasan Bukit
Tigapuluh, sila lihat:
http://eyesontheforest.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=233&Itemid=6
Untuk
informasi selanjutnya silakan kontak:
-
Afdhal
Mahyuddin, EoF Editor; mobile phone: +62-813-8976-8248
-
Hariansyah
Usman, WALHI Riau; mobile phone: +62-812-7669-9967
-
Susanto
Kurniawan, Jikalahari; mobile phone: +62-812-763-1775
-
Nursamsu,
WWF Indonesia, in Riau; mobile phone: +62-812-753-7317
EoF PR in English (pdf)
Siaran Pers EoF (pdf)
|