|
Website BWI
- 30 Mei 2008 – Pada
Agustus 2007, serikat kerja Australia Cabang Pekerja Pulp dan Kertas CFMEU
mengontak Woolworths, satu peritel Australia yang besar, meminta perusahaan
menghentikan membeli produk tisu dan kertas dari Asia Pulp & Paper (APP),
satu pabrik kertas terkemuka berlokasi di Indonesia.
Dengan pemberian cap pada kemasan
produk tisu Woolworths di bawah label "Select Brand" mengklaim bahwa
produk-produk ini berasal dari “kayu serat hutan lestari” dan “bersumberkan
dari perusahaan dikelola secara lingkungan, yakni lestari secara lingkungan,
sosial dan ekonomi."
CFMEU membantah klaim-klaim ini
sebagai keliru dan menyesatkan. Sejumlah laporan terkini menunjukkan klaim
perusahaan itu salah. Dalam Februari tahun ini, peritel pasokan kantor
utama Staples menghentikan membeli produk dari APP karena salah kelola
lingkungannya. CFMEU secara terbuka mengimbau Woolworths untuk menarik
produk-produk ini dari pasar swalayannya.
Pada
24 Agustus 2007, John Sutton, Sekretaris Nasional CFMEU, meminta satu pertemuan
dengan Pimpinan Woolworths, James Strong, untuk membahas isu ini dan sekali
lagi diminta agar produk-produk APP ditarik dari penjualan. Lalu pada 27 Agustus, Woolworths benar-benar
mengeluarkan produk-produk itu, hanya mengembalikan mereka beberapa hari
setelahnya dengan pelabelan bernada keras yang ditutup oleh selembar stiker. Berkenaan
kejadian-kejadian ini, CFMEU dan anggota-anggotanya telah membentuk kampanye "Wake
Up Woolworths" (Bangunkan Woolworths).
Pada 10 April 2008, konferensi anggota-anggota kehutanan BWI untuk afiliasi di
wilayah Pasifik, diadakan di Melbourne,
juga untuk menyampaikan dukungan mereka bagi kampanye CFMEU.
Kampanye yang berlangsung telah memulai penerapan tekanan dipertimbangkan
terhadap Woolworths dengan menyoroti praktek liar tak terkelola di media (cetak
dan televisi), kunjungan ke toko, menargetkan pimpinan bisnis dan investor Woolworths,
menjalankan kampanye billboard dan poster serta melalui pendekatan langsung
kepada dewan Woolworths. CFMEU merasakan
bahwa kampanye sedang merusak perusahaan dan itu artinya sebenarnya bisnis.
Artikel Asli
|